Kursus Forex Tangerang | Tempat tepat belajar trading forex bisa cepat paham dan profit dengan cara yang mudah. Cocok untuk orang masih awam, trader pemula dan intermediate yang ingin jadi mahir. Materi belajar forexnya mencakup trading forex secara manual dan trading forex secara automatic dengan robot forex atau EA (Expert Advisors)

Dampak pengumuman berita fundamental SNB terhadap pergerakkan grafik forex USD/CHF

Bahan belajar analisa fundamental forex, yaitu tentang ulasan dampak pengumuman berita SNB terhadap pergerakkan grafik forex mata uang USD/CHF.
SNB adalah singkatan dari Swiss National Bank, yaitu bank centralnya negara Swiss. 
USD/CHF adalah pasangan mata uang dollars dari negara Amerika dengan mata uang franc dari negara Swiss.
Pada hari Kamis tanggal 15 Januari 2015, pejabat yang berwenang dari bank centralnya negara Swiss, mengeluarkan kebijakkan atau keputusan, bahwa ia mencabut batas atas nilai tukar kurs mata uang franc terhadap mata uang eur, Dengan adanya pengumuman tersebut, maka dalam waktu yang relatif singkat nilai mata uang franc langsung menguat tajam.


Dan inilah dampak nyata dari pengumuman berita fundamental SNB tersebut terhadap pergerakkan grafik forex mata uang USD/CHF jika nilai mata uang franc'nya menguat, lihat gambar di bawah!


Panjang pergerakkan tren turun dari harga high (1.02203) ke harga low (0.70065) adalah sepanjang 32128 ticks.

Grafik forex USD/CHF turun adalah menunjukkan bahwa nilai mata uang franc yang menguat dan nilai mata uang dollar yang melemah.

Penafsiran alasan kenapa pejabat bank central Swiss mengeluarkan pengumuman berupa kebijakkan mencabut atau menghapus batas atas penguatan nilai tukar mata uang franc Swiss terhadap mata uang eur.

Telah lama bahwa Swiss merupakan negara yang memiliki reputasi yang baik dalam hal kesetabilan financial.

Pada tahun 2011, di kala kawasan euro mengalami krisis ekonomi, banyak sekali aliran dana yang masuk ke Swiss, terutama dari euro. Para pelaku pasar kala itu menganggap Swiss franc sebagai “tempat menyimpan” yang cukup baik untuk melindungi aset mereka. Walhasil, Swiss franc pun menguat hampir tak terkendali. Sebelum krisis terjadi, mata uang Swiss franc hanya seharga 0,7 euro di sekitar awal tahun 2010. Masuknya dana secara terus menerus membuat Swiss franc berhasil mencapai kesetaraan terhadap euro di pertengahan tahun 2011.

Pada dasarnya, tidak ada negara yang merasa nyaman apabila mata uang mereka menjadi terlalu kuat. Alasan utamanya biasanya adalah bahwa hal itu akan memberikan dampak yang buruk bagi para eksportir; harga barang-barang mereka menjadi kurang kompetitif.

Swiss sendiri dikenal sebagai pengekspor barang-barang yang memiliki nilai yang tinggi. Kita tentu tahu kualitas jam produksi Swiss yang dikenal memiliki kualitas yang tinggi. Belum lagi sektor farmasinya. Maka dari itu, penguatan Swiss franc yang tak terkendali justru berpotensi akan membahayakan para eksportir dari barang-barang yang bernilai tinggi itu.

Selain itu, ada juga alasan lain mengapa Swiss merasa tak nyaman dengan penguatan Swiss franc yang terlalu hebat. Kaitannya adalah justru dengan sisi finansial; masuknya dana asing yang terlampau besar justru berpotensi akan memberikan efek buruk bagi sistem finansial Swiss.

Dengan alasan-alasan tersebut di atas, SNB lantas mengumumkan bahwa mereka menetapkan batasan bagi penguatan Swiss franc terhadap euro. SNB menyatakan tidak akan membiarkan Swiss franc menguat terlalu jauh, melampaui level 1.2 terhadap euro. Untuk tujuan tersebut, intervensi yang dilakukan SNB adalah dengan mencetak uang (dalam hal ini Swiss franc) dalam jumlah tertentu yang dipergunakan untuk membeli euro. Skenario ini berjalan selama lebih dari tiga tahun.

Swiss National Bank – dengan tiba-tiba tanpa ada peringatan atau gelagat sebelumnya – kemarin memutuskan untuk menghentikan kebijakan mereka untuk membatasi penguatan Swiss franc terhadap euro. Kebijakan ini diikuti oleh penguatan yang luar biasa oleh Swiss franc terhadap mata uang lainnya. Mengapa bisa demikian?

Efek tersebut bisa dipahami. Selama tiga tahun, SNB “menahan diri” untuk membiarkan Swiss franc menguat terhadap euro. Ketika “rem” tersebut dilepas, para pelaku pasar – terutama yang banyak memiliki aset di euro – merasa melihat peluang untuk lepas dari prospek suram euro. Swiss kembali dianggap menjadi “tempat berlindung” yang paling tepat, mengingat euro diperkirakan akan terus melemah. Seperti yang diketahui, European Central Bank (ECB) – yang merupakan bank sentral untuk kawasan euro – telah mengumumkan akan kembali menjalankan quantitative easing alias meluncurkan stimulus.

Para pelaku pasar tentu tak ingin berlama-lama dibayangi kekhawatiran pelemahan euro. Maka segera setelah SNB mengumumkan untuk membuka “kran” penguatan Swiss franc, mereka berbondong-bondong memborong Swiss franc. Yang terkena dampak paling parah tentu saja adalah euro, karena kebijakan tersebut jelas-jelas telah membuka “portal” bagi penguatan Swiss franc terhadap euro.

Dalam pernyataan resminya, SNB memberikan penjelasan mengenai langkah yang diambilnya. Krisis yang terjadi sejak 2011 pada dasarnya memang telah berlalu, namun euro masih tetap dihantui oleh pelemahan lebih lanjut.

SNB menjelaskan bahwa batasan yang ditetapkan tersebut adalah untuk mencegah penguatan Swiss franc yang terlalu jauh dan keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian pasar finansial. Langkah tesebut melindungi perekonomian Swiss dari bahaya. Dengan langkah tersebut, penguatan Swiss franc yang berlebihan bisa dicegah.

Namun perbedaan di antara kebijakan moneter di area mata uang utama dunia telah semakin menajam. Euro telah terdepresiasi terhadap USD dan hal ini pada gilirannya telah membuat Swiss franc melemah terhadap USD. Dalam situasi ini, SNB menyimpulkan bahwa penetapan batas minimum untuk Swiss franc terhadap euro tak lagi bisa dipertahankan.

Dalam pandangan kami, SNB merasa bahwa sudah tidak masuk akal untuk terus mencetak uang guna membeli euro terus menerus, karena hal itu justru memperlemah Swiss franc terhadap USD.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada negara yang mau mata uangnya menjadi terlalu kuat, apalagi dalam waktu yang sangat singkat. Hal tersebut justru akan membahayakan sektor ekspor. Namun SNB semestinya tidak akan tinggal diam. Kemungkinan besar SNB akan kembali melakukan intervensi, namun tidak terhadap euro melainkan terhadap USD. Lagipula, pasar terbesar ekspor barang mewah produksi Swiss saat ini tidak lagi Frankfurt atau Paris, melainkan Beijing atau Shanghai, sehingga mungkin tidak lagi ada alasan untuk “memelihara perdamaian” dengan euro.

SNB kemungkinan besar berharap pada efek suku bunga yang baru. Suku bunga negatif diperkirakan akan berdampak pada selera para pelaku pasar untuk tetap menyimpan dana mereka dalam bentuk Swiss franc. Ditambah adanya kemungkinan Federal Reserve – bank sentral Amerika Serikat – akan menaikkan suku bunga, maka kemungkinan Swiss franc akan kembali melemah akan terbuka.

SNB telah benar-benar sukses mengejutkan pasar, namun juga “bermain cantik” jika skenario yang kami paparkan ini memang telah diantisipasi. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

0 komentar: